Sebagai organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jambi (UNJA) sudah 4 tahun mati dan BEM seluruh fakultas tampak mati dalam peran dan fungsinya.
Kebisuan sebagaian besar BEM fakultas adalah sebuah kemunduran demokrasi kampus yang sangat memprihatinkan Sementara kampus mengalami berbagai masalah, dari birokrasi yang lamban hingga fasilitas yang jauh dari memadai.
BEM sebagai perwakilan suara mahasiswa hanya diam dan tidak mengambil langkah berarti. Situasi ini tentu membuat mahasiswa merasa tidak memiliki perwakilan yang benar-benar peduli pada kondisi mereka.
Dan yang lebih parahnya lagi BEM fakultas Hukum yang menaungi jurusan ilmu sosial dan ilmu politik yang seharusnya menjadi tonggak demokrasi di Universitas Jambi malah memilih diam disaat kondisi BEM di UNJA makrak.
ironisnya, satu-satunya pihak yang terlihat masih memiliki jiwa untuk memperjuangkan perubahan adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

