Jakarta — Iran dilaporkan masih memiliki cadangan senjata dalam jumlah signifikan meski terus menghadapi serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan laporan yang mengutip hasil penilaian intelijen AS terbaru, sekitar setengah dari rudal Iran disebut masih utuh. Selain itu, ribuan drone dilaporkan tetap aman tersimpan di gudang senjata.
Laporan tersebut juga mencakup peluncur yang saat ini tidak dapat diakses, termasuk yang terkubur di bawah tanah akibat serangan, namun tidak mengalami kehancuran.
“Mereka [Iran] masih sangat siap untuk menimbulkan kekacauan besar di seluruh wilayah,” ujar sumber yang mengetahui laporan tersebut kepada CNN.
Disebutkan pula bahwa jumlah drone yang masih tersimpan setara dengan sekitar 50 persen dari total kemampuan drone Iran.
Selain drone, sebagian rudal jelajah pertahanan pantai Iran juga dilaporkan masih utuh. Sistem ini dinilai menjadi kemampuan penting bagi Iran untuk mengancam lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Secara umum, informasi intelijen tersebut menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran masih berlanjut meski mendapat tekanan serangan.
Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, turut menanggapi laporan tersebut. Ia menyebut sumber anonim memiliki kepentingan tertentu.
“Sumber anonim sangat ingin menyerang Presiden Trump dan meremehkan kerja luar biasa militer AS dalam mencapai tujuan Operasi Epic Fury,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal dan drone telah sangat dibatasi. Ia mengklaim fasilitas produksi senjata serta peluncur roket milik Iran telah dihancurkan, dan hanya menyisakan sebagian kecil.
Pada pertengahan Maret, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa serangan rudal balistik terhadap pasukan AS telah menurun hingga 90 persen sejak awal konflik.
“Begitu juga dengan UAV serangan satu arah, seperti drone kamikaze, turun 90 persen,” ujarnya.
Hingga Rabu (1/4), AS dilaporkan telah menyerang lebih dari 12.300 target di dalam Iran. Sejumlah pemimpin senior Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani.
