Penulis : Redaksi

Jakarta — Dua personel pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tewas setelah konvoi kendaraan yang mereka tumpangi terkena ledakan di Lebanon selatan pada Senin (30/3).

Insiden tersebut juga menyebabkan sejumlah personel lainnya mengalami luka-luka.

Mengutip laporan The New York Times, sumber ledakan hingga kini belum dapat dipastikan. Peristiwa ini terjadi sehari setelah Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam tewasnya seorang anggota pasukan perdamaian asal Indonesia di wilayah yang sama.

Ledakan terjadi saat konvoi PBB bergerak dari satu pangkalan UNIFIL ke pangkalan lainnya. Kendaraan terdepan dalam konvoi dilaporkan hancur akibat ledakan, menewaskan dua personel dan melukai beberapa lainnya, termasuk satu korban dengan luka serius.

Insiden ini kembali melibatkan batalion Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL. Ledakan terjadi di dekat Kota Bani Haiyyan, Lebanon selatan.

Pihak PBB hingga kini belum mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Belum ada pernyataan resmi dari Israel, Hizbullah, UNIFIL, maupun TNI terkait insiden ini. Proses penyelidikan masih berlangsung.

Wilayah Lebanon selatan saat ini menjadi titik konflik antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Ketegangan meningkat seiring meluasnya operasi darat militer Israel di kawasan tersebut.

Sekitar 10.000 pasukan penjaga perdamaian PBB ditempatkan di wilayah tersebut dalam misi UNIFIL, yang telah beroperasi sejak 1978 saat perang saudara Lebanon.

Dalam 24 jam terakhir, tercatat tiga personel pasukan perdamaian tewas. Ini merupakan korban pertama dalam insiden tempur sejak konflik terbaru yang dipicu oleh serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel pada 2023 sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas di Gaza.

Konflik sempat mereda melalui gencatan senjata yang rapuh, namun kembali memanas setelah serangan roket diluncurkan sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.

Sebagai respons, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran dan operasi darat di Lebanon. Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari satu juta lainnya mengungsi akibat konflik tersebut.

Sementara itu, Hizbullah terus melakukan perlawanan dengan menyerang pasukan Israel di Lebanon selatan serta meluncurkan roket ke wilayah Israel. Hingga kini, konflik di kawasan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.