Penulis : Redaksi

Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menargetkan fasilitas energi di kawasan Teluk dan mengancam akan melancarkan serangan lanjutan yang lebih destruktif. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global serta mengguncang pasar yang sudah tertekan.

Peringatan keras dari Teheran muncul setelah serangan terhadap ladang gas South Pars, salah satu fasilitas gas terbesar di dunia. Insiden tersebut memicu respons tegas dari pemerintah Iran.

Garda Revolusi Iran menyebut serangan terhadap infrastruktur energi sebagai “kesalahan besar” dan memperingatkan bahwa aksi balasan akan terus berlanjut jika serangan serupa kembali terjadi.

“Jika ini terulang kembali, serangan terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti hingga hancur sepenuhnya,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media Iran, dilansir AFP.

Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap elite militer dan intelijen Iran. Israel dilaporkan menewaskan kepala intelijen Iran, Esmail Khatib, dalam rangkaian serangan yang disebut melemahkan struktur kepemimpinan negara tersebut sejak konflik pecah hampir tiga pekan lalu. Sebelumnya, pejabat keamanan senior Ali Larijani juga dilaporkan tewas.

Pemerintah Iran mengecam keras insiden tersebut. Presiden Masoud Pezeshkian menyebutnya sebagai “pembunuhan pengecut”, sementara pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa setiap darah yang tertumpah akan dibalas.

Di sisi lain, dampak konflik juga dirasakan negara-negara Teluk. Perusahaan energi milik negara Qatar melaporkan serangan rudal yang memicu kebakaran besar dan menyebabkan kerusakan luas di fasilitas gas utama. Pemerintah Qatar merespons dengan mengusir dua diplomat Iran.

Arab Saudi juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone yang menargetkan infrastruktur energi di wilayah timur. Selain itu, puing rudal balistik dilaporkan jatuh di dekat kilang minyak di selatan Riyadh.

Kondisi ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam, dengan patokan utama Amerika Serikat naik lebih dari tiga persen pada Kamis, seiring terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz.

Seruan untuk meredakan konflik datang dari sejumlah pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil setelah melakukan komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar.

“Populasi sipil dan kebutuhan esensial mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer,” ujarnya.

Meski mengalami kerugian dalam struktur kepemimpinan, intelijen Amerika Serikat menilai pemerintahan Iran masih bertahan meski dalam kondisi melemah. Kepala intelijen AS Tulsi Gabbard menyebut pemerintah Iran “masih utuh tetapi sebagian besar telah terdegradasi”.

Iran sendiri tetap menunjukkan kemampuan balasan. Serangan rudal dilaporkan menewaskan seorang pekerja asing di Israel, sehingga total korban tewas mencapai 15 orang. Serangan juga terus terjadi di berbagai wilayah, termasuk Teheran.

Konflik kini meluas ke sejumlah negara di Timur Tengah. Di Lebanon, serangan Israel menghantam Beirut dan memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Warga berbondong-bondong meninggalkan wilayah terdampak menuju kota Sidon untuk mencari perlindungan.

Salah satu warga, Nidal Ahmad Chokr, mengaku terpaksa meninggalkan desanya akibat intensitas serangan udara yang semakin meningkat.

“Para pembuat roti tewas saat membuat roti, dan pekerja kota gugur saat menjalankan tugas,” ujarnya.

Di Irak, kelompok bersenjata pro-Iran Kataeb Hezbollah menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap Kedutaan Besar AS selama lima hari, dengan syarat penghentian serangan Israel di Beirut dan wilayah sipil lainnya.

Konflik yang terus meluas ini telah menewaskan ratusan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. Kondisi tersebut mempertegas kekhawatiran bahwa krisis regional dapat berkembang menjadi gangguan global yang lebih besar, terutama pada sektor energi.