Jakarta — Fenomena situationship kian sering muncul dalam dinamika hubungan modern. Istilah ini menggambarkan kedekatan dua orang tanpa kejelasan status maupun komitmen yang pasti.
Komunikasi dapat berjalan intens, waktu bersama terasa menyenangkan, bahkan lingkaran pertemanan mulai saling bersinggungan. Namun, ketika harus menjelaskan hubungan tersebut kepada orang lain, tak sedikit yang kebingungan menjawab, “sebenarnya kita ini apa?”
Mengutip KMA Therapy, pakar hubungan sekaligus terapis Kimberly Moffit menjelaskan bahwa situationship berada di antara fase kencan awal dan hubungan jangka panjang yang berkomitmen.
Artinya, terdapat kedekatan emosional, bahkan sering kali fisik, tetapi tanpa arah yang jelas. Tidak ada status resmi, kesepakatan, atau batasan yang tegas. Dalam banyak kasus, kedua pihak justru memiliki ekspektasi yang berbeda.
Tak jarang, seseorang baru menyadari dirinya berada dalam situationship ketika muncul pertanyaan sederhana: “kita ini sebenarnya apa?”
Mengapa Situationship Semakin Umum?
Perubahan budaya kencan menjadi salah satu faktor utama. Hubungan kini tidak selalu mengikuti pola konvensional dari pacaran hingga pernikahan, melainkan lebih fleksibel dan beragam.
Kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidup dan relasi membuat banyak orang merasa tidak perlu terburu-buru berkomitmen. Situationship pun kerap dianggap sebagai “ruang aman” untuk mengeksplorasi hubungan tanpa tekanan.
Selain itu, kehadiran aplikasi kencan turut berperan. Banyaknya pilihan membuat seseorang cenderung menunda komitmen, karena selalu ada kemungkinan bertemu orang lain yang dirasa lebih cocok.
Sisi Positif Situationship
Meski kerap dipandang negatif, situationship tidak selalu buruk, terutama jika kedua pihak berada pada frekuensi yang sama. Berikut beberapa sisi positifnya:
1. Ruang eksplorasi tanpa tekanan
Hubungan ini memungkinkan seseorang mengenal dinamika relasi tanpa tuntutan jangka panjang. Hal ini dapat menjadi fase untuk memahami kebutuhan emosional dan preferensi pribadi.
2. Membantu mengenali keinginan
Dengan fleksibilitas yang ada, seseorang dapat lebih objektif menilai kecocokan dengan pasangan tanpa tekanan untuk membawa hubungan ke arah tertentu.
3. Melatih komunikasi
Tanpa label yang jelas, komunikasi menjadi kunci. Kedua pihak perlu terbuka dalam menyampaikan batasan dan harapan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Risiko atau Sisi Negatif Situationship
Di balik fleksibilitasnya, situationship juga menyimpan sejumlah risiko emosional. Berikut beberapa di antaranya:
1. Rentan ketidakjelasan dan ketidakjujuran
Jika niat awal tidak dikomunikasikan secara terbuka, salah satu pihak bisa merasa “digantung” dalam hubungan tanpa arah.
2. Perasaan yang berkembang tidak seimbang
Seiring waktu, perasaan dapat berubah. Ketika satu pihak menginginkan komitmen sementara yang lain tidak, konflik emosional sulit dihindari.
3. Menghambat hubungan yang lebih sehat
Bertahan terlalu lama dalam ketidakpastian dapat membuat seseorang melewatkan peluang untuk menjalin hubungan yang lebih jelas dan sesuai harapan.
Cara Keluar dari Situationship dengan Sehat
Mengakhiri situationship bukan perkara mudah, terutama jika perasaan sudah terlibat. Namun, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar prosesnya tetap sehat secara emosional.
Mulailah dengan memahami apa yang benar-benar diinginkan, apakah hubungan serius atau tetap santai. Kejelasan ini penting sebelum membicarakannya dengan pasangan.
Sampaikan perasaan secara jujur tanpa menyalahkan, serta hindari asumsi. Jika hubungan tidak berkembang sesuai harapan, menjaga jarak bisa menjadi langkah penting untuk melindungi diri.
Di sisi lain, mengakhiri situationship juga dapat menjadi momen refleksi untuk memahami kembali nilai dan kebutuhan dalam sebuah hubungan.
Pada akhirnya, situationship dapat berjalan tanpa masalah jika kedua pihak memiliki ekspektasi yang sama. Namun, ketika muncul ketimpangan perasaan, hubungan tanpa status ini berpotensi menjadi sumber stres dan kebingungan.
