Penulis : Redaksi

JakartaBadan Energi Internasional (IEA) melaporkan lebih dari 40 aset energi di sembilan negara kawasan Timur Tengah mengalami kerusakan “parah hingga sangat parah” di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Minggu (22/3).

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan kerusakan tersebut berpotensi memperpanjang gangguan pada rantai pasokan global bahkan setelah konflik berakhir.

“Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Birol menjelaskan, pertempuran yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu mengganggu seluruh rantai pasokan energi dan hampir menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Menurutnya, dampak gangguan ini menyerupai gabungan dua krisis minyak besar pada 1970-an serta krisis gas alam sekitar 2022.

“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global, perdagangan mereka semua terganggu,” tambahnya.

Ia juga memperingatkan bahwa kawasan Asia menjadi pihak yang paling terdampak akibat ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut.

“Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus,” katanya.

IEA berencana melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat guna meredam guncangan pasokan. Birol menambahkan, langkah tambahan dapat diambil jika gangguan terus berlanjut.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci untuk memulihkan aliran energi global.

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz mulai terjadi sejak awal Maret setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melintasi jalur ini setiap hari, dan gangguan tersebut telah meningkatkan biaya pengiriman serta mendorong lonjakan harga minyak global.

Serangan yang dimulai pada 28 Februari dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.