Penulis : Redaksi

Bungo – Dalam diskusi Narasi (Nalar & Aksi) di Institut Administrasi dan Kesehatan Setih Setio Muara Bungo, Ismet Raja Tengah Malam, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi bencana besar yang mengancam wilayah Provinsi Jambi akibat kerusakan lingkungan di daerah hulu sungai.

​Ismet menyoroti kondisi di beberapa kabupaten seperti Sarolangun, Merangin, dan Bungo yang dinilainya sudah dalam tahap memprihatinkan. Menurutnya, praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) yang merajalela di hulu sungai telah merusak ekosistem hutan dan sungai, yang menjadi akar penyebab berbagai bencana alam di Sumatra.

“Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah sinyal bagi kita semua. Kerusakan di hulu sungai mengakibatkan dampak yang menghancurkan di hilir,” ujar Ismet.

Ismet juga menegaskan bahwa Jambi akan menghadapi risiko bencana yang lebih besar jika kesadaran lingkungan tidak segera ditingkatkan.

Selain kerusakan ekologi, Ismet juga memaparkan dampak sosial yang mengkhawatirkan dari aktivitas PETI, termasuk maraknya peredaran narkoba dan meningkatnya angka kemiskinan di sekitar lokasi tambang. Beliau menekankan bahwa pertambangan yang bersifat eksploitatif dan konsumtif ini tidak memberikan kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat.

​Sebagai solusi, Ismet mengusulkan perlunya mengkaji ulang konsep pertambangan rakyat yang lebih tradisional dan ramah lingkungan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat—pemerintah, akademisi, pemuda, ulama, dan masyarakat luas—untuk tidak lagi menutup mata terhadap isu lingkungan ini.

​”Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita harus bergandengan tangan untuk memastikan sungai-sungai kita tetap bersih dan lingkungan kita tetap lestari untuk generasi mendatang,” tutupnya. (*)