Penulis : Redaksi

BEM FKIP menunjukkan sikap yang responsif terhadap permasalahan kampus dan berani menyuarakan kritik. Sayangnya, langkah mereka tidak diikuti oleh BEM fakultas lainnya, yang justru tampak absen atau hanya menjadi simbol tanpa tindakan nyata.

“Kami tidak ingin hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Kami harus bersatu untuk memperjuangkan hak kami,” ujar Arya Ketua BEM FKIP dalam rilis nya Jum’at (01/11/2024).

Di saat kampus seharusnya menjadi wadah untuk mengasah jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial, matinya peran BEM ini menjadi cermin dari lemahnya budaya organisasi dan minimnya semangat kritis mahasiswa. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka akan semakin sulit bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi, dan kampus akan jauh dari perbaikan.

Mari kita berpikir, apakah kita akan terus diam sementara kondisi kampus semakin buruk? Saya selaku mahasiwa UNJA mengajak seluruh mahasiswa Universitas Jambi untuk tidak tinggal diam. Saatnya mahasiswa UNJA membuka mata dan sadar bahwa kebisuan bukanlah solusi.